Jumat malam, 20 Mei 2011 adalah hari yang spesial buatku. Betapa tidak, hampir 3 tahun aku berada di bumi para Raja ini, belum sekali pun melihat pagelaran kelas kraton yang di gelar di tempat asalmulanya. Karena kesibukan atau prioritas yang lain aku tidak bisa menghadiri pagelaran-pagelaran seni ini pada tahun-tahun sebelumnya. Namun kali ini, benar-benar kesempatan sekaligus kenikmatan yang luar biasa dapat melihat keindahan seni warisan leluhur kita. Pagelaran itu adalah “Mangkunegaran Performing Art 2011″.
Seperti halnya pagelaran-pagelaran seni yang pernah ditampilkan di kota “The Spirit of Java” ini, pengunjung dan penikmat seninya tidak hanya para warga lokal, tetapi juga para pejabat dan wisatawan asing. Sebagai mahakarya seni, tentu saja acara ini menjadi daya tarik yang memikat khususnya para wisatawan asing. Banyak sekali wisatawan asing yang dating menyaksikannya. Kegiatan yang dikemas apik ini menampilkan 4 karya seni tari, 3 karya pertama merupakan warisan para raja Mangkunegaran dan yang terakhir adalah karya inovatif para seniman dari akademi seni Mangkunegaran. Semuanya sangat menarik.
Mangkunegaran Performing Art 2011 dibuka oleh salah seorang Pangeran dari Kraton Mangkunegaran dan Kepala Dinas Kebudayaan Kota Surakarta. Acara kemudian dilanjutkan dengan pementasan tari Gambyong Pareanom Mangkunegaran. Tari ini merupakan tari yang dipentaskan dalam penyambutan tamu yang berkembang pada masa pemerintahan Raja Mangkunegara VII. Jadi jelas, pasti tari ini akan selalu ditampilkan pertama kali di setiap even pagelaran seni keraton Mangkunegaran. Ada 7 penari yang cantik-cantik di sana, terutama 2 yang ditengah. Wow, very beautiful!
Kemudian dilanjutkan dengan tari Serimpi Pandelori yang diciptakan pada masa pemerintahan Mangkunegara V. Empat orang penari yang tak kalah cantik dari yang sebelumnya menampilkan sajian yang sangat menarik bagi aku. Maklum, tiga tahun di Solo baru kali ini melihat tari yang langsung ditampilkan oleh jajaran putri-putri keraton Mangkunegara (mungkin saja begitu). Yang jelas beda dong dengan sajian yang pernah kulihat di sekolah dulu. Iya kan. Tari ini mengisahkan perjalanan Dyah Sirtupelaheli yang sedang naik burung garuda untuk mencari suaminya Sang Ambyah yang dipenjara oleh Prabu Kanyun di Parangakik. Inti ceritanya panjang, intinya Sang Ambyah dapat dibebaskan oleh adik Raja Parangakik dan dia dijadikan suami bersama. Ha ha ha Core 2 Duo. Ups, Core 2 Wife.
Meski bagus, aku mulai ngantuk. Tapi kemudian terkejut melihat 2 laki-laki yang kontradiktif. Yang pertama “bagus” alias tampan. Yang satu diragukan kemanusiaannya. Hanya karena acara ini sudah jelas terkondisikan dan terjamin keamanannya maka aku yakin laki-laki yang menyeramkan dan bertaring ini juga manusia. Kesimpulannya, laki-laki tadi hanya didandani ala Raksasa yang menyeramkan. Dialah pemeran sang Kala Kresna, rezim penguasa Dwarawati sebelum Kresna berkuasa. Sedangkan lelaki yang tampan tadi adalah pemeran Narayana yang sedang terobsesi untuk menikahi Dewi Rukmini tapi harus menjadi raja. Tari ini mengisahkan pertarungan antara Narayana melawan Prabu Kala Kresna yang akhirnya dimenangkan oleh Narayana lewat bantuan Busur Panah Ki Kesowo pemberian gurunya. Tari ini diberi nama Wireng Narayana-Kalakresna, diciptakan oleh GPH Herwasto Kusumo. Tapi sekali lagi, ini juga tari dengan nuansa perang. Jadi dua laki-laki tadi adalah dua seniman, bukan musuh. He he he.
Nah, ketiga karya di atas bisa dikatakan sebagai karya sejarah. Artis pertunjukannya pun semua berasal dari Langenpraja Mangkunegaran. Tidak main-main lho. Sebuah warisan budaya yang begitu memukau, artistik dan penuh dengan nilai-nilai luhur.
Sedangkan yang terakhir adalah tari garapan modern yang aku katakan inovatif, karena penuh dengan nuansa yang glamour dan terasa penuh semangat. Alunan drum dan kendang yang sangat dominan berpacu dalam setiap fragmen tari. Inilah tari Bregada Pareanom, buah karya para seniman dari Akademi Seni Mangkunegaran (AGSA) Surakarta. Tari ini menggambarkan semangat para prajurit wanita. Ketika melihat tari ini, aku sangat tertarik dengan sajian suara dan performa para penarinya yang terdiri dari 2 laki-laki dan 6 wanita. Konsepnya lebih mirip seperti sendratari atau mungkin itu merupakan sendratari (karena aku sendiri juga belum pernah lihat langsung, misalnya sendratari Ramayana di Candi Prambanan). Yang jelas, tari ini ga bikin aku tidur deh. Semangat, aja aja fighting ! Ikut-ikutan Full House deh.
Di samping keempat pentas yang memukau tadi, pada malam berikutnya masih ada 3 karya lagi yang akan dipentaskan, tapi mungkin aku tidak bisa datang. Dan masih ada 2 hal yang berkesan bagiku. Yaitu kuliner dan seorang bapak yang berkepala botak. Makanan khas Solo banyak tersaji di sana, sayangnya aku tidak membawa uang banyak untuk membeli satu-satu. Dari pada tidak adil, jadinya aku juga tidak membeli semuanya. He he he, alas an klasik anak kos. Aku juga sempat men-shoot foto unik tersebut. Mohon maaf ya Pak. Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya ingin mengungkapkan kenylenehanku saja. Karena aku menyukai hal-hal yang aneh dan unik.
Akhirnya, aku cuma bisa berkata. Mangkunegaran Performing Art 2011 is very amazing. Aku melihat kembali kehalusan dan keluhuran budaya Jawa di sini. Di negeri para raja ini, aku akan terus menemukan nilai-nilai ketimuran kita yang mulai luntur. Bagaimana pun kita tetap orang Jawa yang sepantasnya tetap menjaga nilai-nilai luhur ini. Karya pujangga yang tak akan pernah terlupa.
















